Suatu ketika aku mengalami sebuah masalah. Bagiku adalah masalah besar karena aku tidak dapat menyelesaikannya dengan sendiri. Mungkin bagi ahlinya hanyalah masalah kecil dan makanan keseharian mereka. Ketika itu lampu sepeda motorku padam, dan alat pengukur kecepatan kilometer motor itu putus, sehingga seberapapun lajunya motor yang aku kendarai, aku tidak dapat mengetahui dimana posisi kecepatan ku mengendara. Hal ini tentu saja sangat membahayakan, karena kita tidak mampu mengira dan dapat mengakibatkan kebablasan. Akhirnya ku putuskan untuk membawanya ke sebuah bengkel terdekat di jalan. Jika aku membawa motor itu ke dealer service nya, akan memakan waktu lebih lama lagi. Dan hari itu pun sudah sore. Yakin akan sampai di rumah malam hari, aku tidak berani untuk melanjutkan perjalanan pulang tanpa lampu motor yang telah diperbaiki. Bisa-bisa tertangkap polisi atau menabrak polisi.
Aku sangat terkesan ketika seseorang yang memperbaiki gangguan pada motorku adalah seorang anak berusia 14 Tahun. Usia anak kelas 2 SMP di mana masa-masa mereka adalah masa yang ingin bebas bermain dan belum terpikir sama sekali untuk bekerja, kecuali beberapa orang yang dapat dihitung jari karena kondisi ekonomi. Salut dan sangat apresiasi sekali terhadap anak itu. Anak itu agak pendiam, namun tidak pemalu. Selepas pulang sekolah ia segera mengganti 'baju khususnya' untuk membantu ayahnya di bengkel teras rumah. Ibunya hanya seorang penjual makanan ringan dan menyediakan minuman di bagian teras samping bengkel. Keadaan yang agak bercampur dengan barang-barang yang berbau otomatif; oli, ban, dan sebagainya karena aku tidak tau nama-nama barang itu.
Aku seperti seorang yang tersihir dengan pemandangan anak berperawakan kurus tinggi itu. Dimana ia membongkar pasang isi mesin dan barang yang ada dalam tubuh kendaraan milik orang yang lebih dulu datang sebelum ku. Aku membayangkan, anak ini sungguh telah memiliki bakat dan kemampuan yang mungkin anak SMK jurusan otomotif atau mesin saja tidak sepandai dia. Dengan sendirinya ia memasang puzzle-puzzle kepingan dan susunan organ tubuh mesin yang nampaknya rusak akibat kecelakaan. Aku membayangkan betapa anak itu bagaikan dokter cilik yang sedang mengoperasi jantung, paru-paru dan usus seorang pasien. Tangannya yang berlumuran hitam, sebab oleh kotoran mesin itu, bagaikan darah yang terus mengalir. mungkin terlalu hiperbola, namun inilah yang ada dibenak ku.
Perbincangan singkat ku dengan anak itu, memberikan gambaran bahwa anak ini telah sejak sekolah dasar ia selalu diikutsertakan oleh ayahnya ketika bekerja, melihat dan mengamati, memperhatikan dan mencoba untuk melakoni, atau mungkin refleksi kesadaran atas kedewasaan dirinya yang tergerak untuk membantu meringankan pekerjaan orang tuanya. Wajar saja ternyata, dua orang bersaudara, kakak sulung perempuan yang tidak mungkin untuk bekerja sebagai tukang bengkel dan montir, maka jelaslah sesuai kebiasaan pada umumnya, sebagai anak bungsu laki-laki, dialah yang diajarkan ayahnya agar dapat meneruskan profesi itu di masa yang akan datang.
Aku kembali menerawang, seharusnya anak ini dapat penghargaan dari sekolahnya. Selayaknya ia mendapatkan beasiswa atas prestasi dan kemampuannya yang lebih diantara teman-teman lainnya. Memang pekerjaan 'membengkel' tidak termasuk dalam kurikulum sekolah SMP. Dan tidak terdaftar sebagai mata pelajaran siswa. Namun keterampilan ini patut untuk dibanggakan. Aku pun teringat pada sebuah buku Sekolah Untuk Kehidupan karya Zulfikri Anas, menyebutkan bahwa anak seorang pelaut, yang sekolahnya harus menyeberangi dan mengarungi ombak lautan, hanya bermodalkan perahu dan buku untuk dapat sampai ke sekolah. Mereka bertarung, bagaimana caranya untuk melewati hantaman ombak yang terus datang silih berganti, mengatur strategi agar ketika ombak datang, perahu mereka tepat berada di atas ombak, sehingga selamatlah mereka dari tenggelam.Praktek kalkulasi pembelajaran sains, matematika, sampai pada sosial telah mereka alami. Dan di sekolah mereka mengulang pada bab teori. Hal yang kadang kurang disadari oleh sebagian guru, bahwa seorang anak belajar dan mengalami dari lingkungan sekitarnya, dan segala hal baik yang mereka capai, seyogyanya patut untuk guru hargai setinggi-tingginya. Semangat penghargaan dan motivasi yang menjadi tradisi negara Australia, dan memang mereka lahir dan tumbuh dari budaya tersebut, memberikan potret bahwa anak-anak mereka tumbuh dalam sosial yang menjunjung tinggi nilai apresiasi.
Dari sebagian realita sosial yang ku dapati dan amati, bahwa beberapa anak Indonesia di berbagai daerah tumbuh bagaikan kuda, dan orang tua merekalah yang menjadi joki kuda tersebut. Anak harus tumbuh sesuai dengan perintah orang tua mereka dan harus menjadi apa yang mereka kehendaki. Memang benar, bahwa ketaatan pada orang tua adalah sebuah keniscayaan. Namun bukan berarti anak tidak diberi ruang untuk ia mengekspresikan diri dan berdiskusi. Sejatinya keterbukaan antara orang tua dan anak, orang tua dan guru adalah sarana yang baik untuk mengarahkan masa depan mereka tanpa harus memaksa.
Anak bengkel itu tumbuh dalam disiplin yang keras, orang tua yang tegas dalam memerintahkan anak, ia tidak memiliki hak untuk membantah dan protes. Hanya saja, andai ia diberi ruang untuk menyampaikan apa yang ia inginkan, apa yang ia miliki dalam pemikiran, mungkin ia akan menjadi seorang yang lebih hebat dari apa orang tuanya bayangkan.
Dari sini aku dapat menarik kesimpulan bahwa prestasi sekecil apapun yang anak tunjukkan, adalah kelebihan yang ia miliki. Kita tidak boleh meremehkan ataupun mencercanya. Sebaliknya kita harus meghargainya, barang dengan pujian dan sejenis motivasi lainnya. Bagaimana bahagianya perasaan kita ketika melihat balita kita, telah mampu makan sendiri dengan sendok di tangannya. Tentu hal ini adalah prestasi yang kadang tidak kita sadari. Mereka senantiasa berproses dan perlu untuk terus didukung.
