Seketika sholawat bergema di malam pertama bulan Ramadhan 1436 H. Sholawat yang menandakan bahwa malam itu didirikannya sholat sunnah tarawih berjama'ah selepas sholat isya. Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang diketahui orang pada umumnya. Bulan Ramadhan adalah bulan peleburan dan pembakaran dosa. Di dalam satu bulan penuh, umat muslim di seluruh dunia bagaikan di-training kembali dalam tatanan ibadah mereka. Menjalankan ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Pahala setiap sholat sunnah terhitung bagaikan pahala sholat fardhu pada hari-hari biasa. Shodaqah yang dijanjikan akan besarnya balasannya. Membaca Al-Qur'an yang senantiasa kita lihat fenomenanya, dan ibadah puasa yang Allah sendirilah membalasnya.
Puasa yang kita ketahui, tidak hanya menahan haus dan lapar semata. Dalam kajian tasawwuf, puasa semacam ini adalah milik orang awam. Bukan pula puasa yang mengharapkan pahala, karena ibadah dengan motif ini adalah ibadah para pedagang. Namun, puasa di sini adalah puasa yang mampu mengendalikan seluruh hawa nafsu, akal pikiran, dan hati ikhlas karena Allah. Ibadah yang dilandasi karena kesyukuran kepada-Nya, akan membuahkan keridhoan-Nya. Puasa, baik secara ilmiah maupun batiniah telah terbukti manfaatnya. Tidak terhitung jumlah penelitian yang menyebutkan kegunaan puasa, dan tidak ada satupun yang menyatakan rugi dalam berpuasa. Puasa melatih mental diri manusia. Bagaimana ia secara sosial turut merasakan dari apa yang dirasakan kaum dhu'afa. Bagaimana ia layaknya sebuah telur yang digelindingkan dengan tetap menjaga keutuhan bentuknya. Tidak retah dengan menjaga kata-kata yang mulia, menghindari cacian, amarah, buruk sangka, iri, dan macam-macam patologi hati lainnya.
Betapa agung ketika kita benar-benar dapat menjadi hamba yang mukhlishiina lahu-d-diin. Malam-malam yang diisi dengan tadarus dan tadabbur Al-Qur'an, merenungi, meresapi, kandungan yang ada di dalamnya. Agar di hari raya Idul Fitri nanti, kita benar-benar menjadi hamba yang suci bak terlahir kembali. Islam memang agama yang sempurna. Segala ajaran dan tuntunan dikemas dengan sangat rapi. Sebelum shubuh menjelang, seluruh umat muslim disunnahkan untuk bersahur. Mengisi bekal agar ibadah kita pada hari itu, dapat berjalan dengan baik. Aturan yang tepat. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas. Bagaimana mengiranya, tanyakanlah pada diri masing-masing. Sebelum kita merasa kekenyangan, Rasulullah Saw., telah memerintahkan untuk berhenti.
Apa yang kau dapati, sejatinya adalah sebuah kedisiplinan dalam hidup. Kadang kita butuh waktu barang sejenak untuk memikirkan hikmah di balik sesuatu. Oleh karena itu, hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang muslim, yang ia harus mencarinya. Agar tumbuh kearifan dan kebijakan dalam dirinya.
Salam Ramadhan, semoga kita menjadi hamba-Nya yang taqwa.
