Kamis, 01 Oktober 2015

Let it be my rainbow ‘a moment’




First of all, i will say this is not an important note. Hanya saja entah kenapa cuma ingin menggoreskan tentang apa yang sedang ‘anak muda labil’ ini sedang rasakan. Naturally, ini hanya tentang sesuatu yang abstrak. Bingung juga dengan mood booster yang tiba-tiba lagi gak stabil ini. Sebenarnya tulisan ini hanya ungkapan sederhana guna meringankan kebingungan perasaan ‘bodoh’ ini. (Bukan bodoh tapi ya, perasaan itu kan tidak berdosa sejatinya). Hanya saja waktu yang belum mengizinkan. (alay dikit boleh ya).
Actually, Meet up baru satu semester tadi. Cuek, itu aku banget. Pendiam di luar, juga diakui. Tapi kalau sudah sama teman dekat, lebay nya ga ketolongan. (wah buka kartu). Benar kalau ada yang bilang, ketika kita tidak memperhatikan seseorang, kita tidak akan pernah mengenal dan mengetahuinya. Well, kenapa waktu itu, lagi ter-perhatikan anak satu ini. Diterima kali ya teori cinta lokasi atau cinlok karena terbiasa kontak mata. Atau cinlok tadi gara-gara pandangan pertama yang gak bersalah?
Kalau seseorang itu memulai dengan admire, wajar saja jika berujung dengan Suka. Dan itu alami  secara manusiawi, sosiologi, interaksi, komunikasi, ekologi, antropologi dan teologi sampai geografi (ngawur ih). Suka itu juga kadang bisa mucul, menghilang dan muncul kembali. Suka itu karena kontak mata akibat perform yang ditunjukkan dan dihasilkan seseorang itu berhasil menarik attention orang lain. Suka itu gak memandang alasan. Alasan logis atau gila itu jadi beda tipis. Suka itu kadang selalu menggoda di tengah kesendirian.
Dia pendiam, dan diamnya benar-benar emas, apalagi ketika ia berbicara singkat namun exotic.  (tapi real detailnya belum tau juga ya). Dia ga seperti laki-laki kebanyakan. Figure yang ia miliki yang ia dapat dari dimana ia bersekolah dapat ia pertahankan di tengah teman-teman yang berbagai macam bentuk. Dia rajin (katanya juga sih), dia menjaga pandangan sangat. Dapat dibilang dia good-looking enough. Belum pernah terdengar hal jelek dari dirinya. Dan ketika aku berharap untuk dapat satu kelompok, Allah mustajib du’aa. Ujung-ujungnya statement akhir menjadi; ‘kalau jodoh pasti dipertemukan dalam keadaan yang terbaik, yang terindah, dan yang terbahagia’.
Gak mengharap banyak pada si dia ataupun pada setiap diri manusia lainnya. Sebab kebanyakan berakhir pada kekecewaan. Maka berharap itu, hanya pada Allah yang absolut dong. Dijamin gak pernah ingkar janji, itu pasti. Bagiku, ungkapan rasa suka ini sebuah kesyukuran tersendiri karena aku pernah mengenal orang sebaik ini sejauh yang aku ketahui saat ini, dan di sini.
Memang kita tidak ada kuasa untuk memaksakan sebuah kehendak apalagi yang namanya hastag perasaan cinta. Allah lah yang mengatur perasaan, cinta dan sayang seseorang terhadap seseorang lainnya. Allah lah yang maha membolak balikkan hati pada tiap hamba-Nya.
Jadi ingat lagunya Utopia yang judulnya hujan. ‘Segalanya seperti mimpi...’ yaa mimpi yang selalu indah dalam benak khayal. Tulisan ini cuma ungkapan yang tak perlu tindak lanjut kok. Ungkapan yang tak perlu sayap untuk menyampaikannya. Sebab aku tahu dan yakin, cukup aku meminta kepada-Nya, menjaga dalam doa, maka Dia akan pertemukan dengan siapapun yang lebih baik bahkan terbaik dalam hidup.
Kegalauan yang obatnya adalah kembali pada aduan manja di keheningan sepertiga malam kepada Maha Pemberi cinta, kasih dan sayang itu sendiri. Rasa dalam diri ini, bisa jadi hanya jadi rasaku, maka biarlah ia hanya menjadi sejenak pelangi dalam siluet.  Rasa yang sekali lagi ‘cukup’ aku tuangkan dalam tulisan yang menjadi bahan sesimpul senyum kecil di kemudian hari ketika aku membacanya kembali. Bahwa aku pernah fall in love in this way. Although i, have no right to force this feeling but, i have a chance to give an awesome trace in our companionship.
Semoga perasaan yang berjalan bagai air ini akan bermuara sampai ke pertemuan dua lautan  yaitu samudera.