Finally, welcome back i-reader! Hari ini aku ingin menuliskan banyak hal
tentang “Indahnya Islam” sebagai agama terakhir di muka bumi ini. Well, berbicara
tentang agama. Beberapa pemikiran akhir-akhir ini sering mencampuradukkan
antara kebenaran dan kebathilan dengan berdalih atas nama equality atau
kesamaan, humanity atau kemanusiaan, toleransi dan saling menghargai. Kita
menyetujui bahwa hampir di tiap agama manapun tidak ada yang mengajarkan
kekerasan, keburukan, dan segala hal yang mengarah pada perbuatan negatif. Nope.
Dan semua pun menyetujui bahwa agama sebagai simbol kedamaian, kebaikan dan
segala hal yang mengarah pada hal positif.
Kita pun bahkan setuju, jika ada
yang mengatakan bahwa semua agama itu baik. Iya, cukup sampai kata baik. Tidak ada
penambahan apapun. Tapi jika ada yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar
dan setiap dari manusia menuju pada satu tujuan yakni surga dan Tuhan meskipun
jalannya berbeda-beda. Maka statement terakhir inilah yang saya tidak
setuju. Di dalam Surah Al-Kafirun telah dijelaskan isi kandungan yang termaktub
dalam ayat 1 sampai 6, bahwa etika pergaulan dan toleransi antar ummat beragama
hanya sampai pada ranah sosial masyarakat saja. Tidak lebih dan tidak boleh
masuk pada ranah aqidah dan ibadah. Sebab ketika di bangku sekolah dulu, kita diajarkan
materi tentang fanatik. Sehingga kita tidak akan main-main dalam menjalankan
perintah agama.
Di samping itu Islam bukan agama kutu loncat yang dapat terbang sana-sini
dari satu kepala ke kepala yang lainnya. Islam tegas bahwa permasalahan aqidah
dan ibadah adalah kebebasan individu dan tidak boleh ada paksaan dan tidak ada
kompromi. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah melarang umat-Nya untuk memiliki
anggapan pluralis sebagimana yang tersebut di atas. Maka, kita sepakati
bahwa semua agama adalah baik, namun
Islam-lah agama yang benar. Tidak ada Tuhan selain Allah. That’s all. Seyogyanya
menjadi seorang muslim itu harus bersyukur dan bangga. Orang yang belum bersyukur
dan bangga terhadap karunia Iman, Islam dan Ihsan atas dirinya berarti ia
kurang membaca. Iya, salah satu penyebabnya adalah kurang membaca maka ia kurang
memiliki pengetahuan tentang keislamannya sendiri.
Lihatlah tumpukan buku-buku keislaman yang menggambarkan
keutamaan-keutamaan seorang muslim. Segala sesuatu yang dilakukan seorang
muslim adalah bernilai ibadah. Terlebih amalan yang terkandung dalam Alquran
dan Sunnah. Tidak hanya obral pahala, namun juga obral kebaikan yang dapat
ditelisik dari berbagai aspek kehidupan. Sekali lagi tidak salah Allah Swt., menyebutkan
dalam QS. Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi: “pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah
Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. Meskipun konteks ayat ini berbicara
kepada Nabi Muhammad dalam rangka menggembirakan hati beliau, tidak ada
salahnya jika kita lihat kembali penggalan ayat di atas. Dan tidak ada salahnya
pula untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alquran, kita bayangkan saja seakan-akan
turunnya kalamullah itu juga untuk kita.
Di sini Allah secara gamblang menungkapkan bahwa Islam adalah agama yang
sempurna. Disadari atau tidak segala sesuatu serba ada dalam Islam. Namun
terkadang pengetahuan manusia belum sampai untuk mengungkap kesempurnaan itu. Ada
kalanya suatu kesempurnaan itu terungkap dalam satu waktu, dan sebagian yang
lain terungkap di lain waktu dan di lain zaman. Berlanjut, ...telah Aku
cukupkan nikmat-Ku bagimu... Lihatlah di dalam ajaran Islam itu sendiri. Nikmat
apalagi yang tidak berkelimpahan, mulai dari nikmat fisik, jasmani, batin,
rohani semuanya terpenuhi; bagi seorang muslim yang kaaffah dan istiqamah
dalam berislam.
Islam mengatur dengan sangat begitu
rapi dan mendetail seluruh tatanan dinamika kehidupan manusia. Dari manusia
bangun tidur sampai tidur kembali. Kemudian, Islam merupakan agama yang jelas-jelas di
ridhoi oleh Allah Swt. Jika Allah Swt., telah ridho maka apapun yang dilakukan
hamba-Nya senantiasa membuahkan pahala, Insya Allah. So, nikmat Tuhan
manakah yang kamu dustakan?
Di sini Nisa hanya ingin merangkum ulang tulisan yang bersumber dari buku Tau
Gak Sih Islam Itu Sehat? Karya dr. Faza Khilwan Amna dan dr. Hendri
Okarisman. Memuat banyak hikmah ibadah dari yang telah ditetapkan oleh
Allah dan yang telah diajarkan Rasulullah. Namun dari segi pembahasan
keilmiahan medis. Let’s start with many kinda of hikmah sholat.
